Tampilkan postingan dengan label Indonesia Tanah Airku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Tanah Airku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Ignasius Jonan : Bapak Yang Mengubah Wajah Kereta Api Indonesia

     Kalau melihat foto ini mungkin orang banyak yang nggak tau siapa bapak - bapak yang tertidur di bangku kereta ekonomi ini, bahkan setelah diberi tahu kalau beliau adalah Pak Ignasius Jonan pun mungkin beberapa nggak tau siapa bapak ini. Pak Ignasius Jonan ini adalah CEO atau Dirut PT Kereta Api Indonesia, terus ngapain beliau tiduran di kursi kereta api? Ekonomi pula?
     Jadi ceritanya, Pak Ignasius ini sudah 15 hari hidup di kereta untuk memantau kesiapan anak buahnya dalam menangani arus balik lebaran kali ini. Foto itu diambil oleh Pengamat Kebijakan Publik Pambagio, pada 31 Agustus lalu. Bahkan Pak Jonan ini cuma bawa baju seragam PT KAI 4 biji, nggak bawa koper atau tas yang isinya macam - macam. Luar biasa pemimpin ini bahkan mau mendampingi dan memastikan anak buahnya bekerja dan memberikan pelayanan yang terbaik.
     Pak Jonan ini satu dari beberapa CEO yang saya kagumi selain pak Emirsyah Satar yang telah menghidupkan kembali Garuda Indonesia dan Pak Dahlan Iskan. Bapak yang satu ini berhasil mengubah wajah kereta api Indonesia menjadi lebih baik lagi. Kini tak lagi kita temukan penumpang yang berdiri di atas gerbong, pedagang yang seenaknya naik-turun kereta, hingga stasiun yang kumuh.
     Tegas, cepat tanggap, dan peduli serta tak kenal lelah dalam bekerja adalah sebagian karakter yang melekat pada diri bapak ini, maka tak heran kalau majalah Marketeers menganugerahkan Marketeers of the Year pada tahun 2012 dan 2013 serta memasukkan namanya dalam "The 69 Change Divers". Dan saya rasa akan sangat luar biasa kalau Pak Ignasius ini mendapatkan jabatan Menteri Perhubungan untuk Transpportasi Indonesia yang lebih baik. Salute

Rabu, 06 Agustus 2014

Timnas U-19 Garuda Jaya : Sebuah Tim Nasional ataukah Klub Super?

     Sebuah fenomena baik muncul membumbungkan asa pecinta sepak bola tanah air, Timnas U-19 besutan Indra Sjafri menampilkan permainan apik dan menarik hingga mampu mengalahkan tim sekaliber Korea Selatan. Sehebat apakah anak - anak muda ini?

      (Tim Nasional U-19 Garuda Jaya)

     Sang pelatih Indra Sjafri sejatinya sudah mengumpulkan pemain pemain terbaik  bangsa ini sejak mereka masih berusia 15 tahun. Pak Indra sendiri melakukan pencarian langsung ke daerah - daerah terpencil di pelosok Indonesia untuk menemukan bibit-bibit pesepak bola terbaik di negeri ini. Beliau bahkan rela mengunjungi Muara Teweh di Kalimantan hingga Alor di NTT guna mencari pemain yang dia rasa bahkan scout PSSI pun enggan mendatangi daerahnya. 

(Menemukan Sandi Gunawan di Aceh)

    Pembinaan yang dilakukan Pak Indra sedari dini ini memang merupakan komitmen beliau yang sangat peduli dengan pembinaan pemain usia dini. Alhasil pemain hasil pencariannya ini kini berkembang menjadi sebuah tim super dengan gaya main menyerupai tiki-taka dengan kaptennya Evan Dimas. Mereka beberapa kali sudah menunjukkan kepiawaian mereka dengan menjuarai turnamen HKFA di Hongkong dan berhasil lolos keputaran final Piala Asia U-19 dengan mengalahkan tim kuat Korea Selatan 3-2 dipertandingan terakhir. Tim ini pun turut menjuarai Piala AFF U-19 pada tahun 2013 lalu.Luar Biasa!

(Timnas U-19 Juara Turnamen HKFA di Hongkong)

     Antusiasme masyarakat meninggi, publik berharap banyak kepada 23 anak muda ini namun benarkah mereka ini adalah Tim Nasional?
     Mengapa saya bertanya demikian? Saya bukan bermaksud menjelek - jelekkan tim super buatan Pak Indra ini, namun saya hanya ingin menyoroti pembinaan pemain usia dini yang dilakukan oleh PSSI selama ini saja.
     Di Jepang dan Amerika Serikat, pengembangan pemain dilakukan dari usia dini melalui dua jalur. Ada yang melalui pembinaan klub adapula yang melalui kompetisi pelajar. Shunsuke Nakamura yang mantan pemain Celtic Skotlandia merupakan salah satu hasil pembinaan dari jenjang kompetisi sekolah. PSSI-nya Jepang bahkan nggak main - main dalam membuat target. Ketika mereka menargetkan untuk lolos Piala Dunia di tahun 2002 saja mereka sudah melakukan persiapan sejak tahun 1994, hal pertama yang mereka buat adalah pembangunan infrastruktur seperti lapangan dan menyekolahkan pelatih keluar Jepang. Hasilnya kini Jepang menjadi salah satu kekuatan Asia bahkan pemain - pemainnya malang melintang bermain di Eropa.
(Shinji Kagawa, Pemain asal Jepang yang merumput di Dortmund dan Manchester United)

     Dana yang mereka keluarkan hanya untuk modal awal pengembangan usia dini ini saja mencapai 200 juta dolar US, bandingkan dengan dana pembinaan Timnas U-19 yang "hanya" senilai 2 Milliar rupiah saja. Bukan sesuatu yang instan tentunya.
     Lalu coba kita tengok, para pemain U-19 ini sudah bersama - sama selama hampir 4 tahun dan saat ini sedang berlatih bersama, berbeda dengan pemain Timnas U-19 Jepang yang mungkin saja saat ini sedang berlatih dengan klubnya masing - masing dan baru dikumpulkan ketika ada Laga Internasional saja. Jadi Timnas kita ini Tim Nasional yang orangnya berasal dari berbagai Klub atau malah sebuah klub super yang dimajukan sebagai tim nasional? 
     Sekali lagi bukan maksud saya untuk menyalahkan Timnas. Hanya saja ada baiknya, PSSI mulai melakukan perbaikan infrastruktur dan program pembinaan usia dini mulai saat ini. Agar nantinya bisa muncul Pak Indra yang baru sehingga memunculkan fondasi Timnas yang semakin kuat, tidak hanya sebuah klub super dengan roster sebanyak 23 orang pemain saja.

Minggu, 30 Maret 2014

BIMA Satria Garuda : Pahlawan Baru Anak Indonesia












   Banyak yang bilang, anak - anak Indonesia zaman sekarang tidak punya figur pahlawan. Sosok pahlawan adalah mereka yang menjadi panutan dan memberi semangat juang setidaknya dimasa kanak - kanak ini. Cerita tentang kegagahan Diponegoro, Imam Bonjol, dan Teuku Umar memang diceritakan dalam kurikulum SD, tapi apakah itu lantas menjadikan mereka sebagai anutan anak - anak kecil Indonesia? Bukannya skeptis, tapi rasanya tidak. Ceritanya memang bagus, namun kemasannya kurang baik dan pesan yang ingin disampaikan tidak dapat dengan mudah dicerna oleh anak - anak.  Jadilah, apa yang mereka lihat di layar televisi-lah yang mereka contoh.

     Dahulu, di akhir tahun 2000-an, kita punya Saras 008 dan Panji Manusia Milenium (Yang pemerannya Primus kalo ga salah) sebagai figur pahlawan anak Indonesia. Selain mengajarkan banyak hal seperti Kebaikan akan selalu menang dan harus ditegakkan, hal - hal kecil seperti selalu minum susu dan hormat kepada orang tua pun turut diajarkan.
     Namun kemudian, jagoan - jagoan baru dari Jepang mulai masuk ke layar kaca Indonesia, Kamen Rider namanya. Dimulai dari Kugaa, Agito, Ryuuki, sampai Diend bergantian masuk. Kehadiran mereka dengan tampilah yang lebih baik ini terpaksa membuat jagoan - jagoan asli indonesia mulai tersisih dan hilang. Maka apabila adik saya yang sekarang sekolah di SMA ditanya Saras, maka dia tidak akan tahu, ya dia taunya Kamen Rider ini.

     Namun kini telah hadir pahlawan baru kita, BIMA Satria Garuda!! Bima Satria Garuda adalah sebuah serial tokusatsu dan serial komik Indonesia yang merupakan hasil kerja sama MNC Media dengan Ishimori Productions pembuat serial Kamen Rider. Serial ini dibintangi oleh Christian Loho, Rayhan Febrian, Stella Cornelia (JKT48), Adhitya Alkatiri, dan Sutan Simatupang. Serial ini terinspirasi dari serial tokusatsu Jepang "Ksatria Baja Hitam" yang pernah populer di Indonesia, namun dikemas dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia untuk menjadi pahlawan super baru Indonesia.
     Kisah Bima Satria Garuda berawal di Dunia Paralel yang dikuasai Kerajaan VUDO dan berada di ambang kehancuran. Dunia Paralel adalah sebuah dunia yang hidup dalam kegelapan abadi, yang alamnya sudah tidak memiliki elemen sumber kehidupan karena ambisi kekuasaan Kerajaan VUDO. Rasputin adalah penguasa Kerajaan VUDO yang jahat dan kejam. Dia ingin mencari dunia lain untuk merebut segala sumber daya alamnya demi menghidupkan Dunia Paralel dan memperluas kekuasaan VUDO. Dua orang ilmuwan di Bumi berhasil membuat sebuah portal yang bisa menyambungkan Bumi dan galaksi lainnya, sehingga VUDO menemukan dunia lain yang bisa dikuasai.
      Ray Bramasakti mendapatkan Power Stone Merah dari seorang pemuda misterius bernama Mikhail untuk menghentikan segala upaya Rasputin dan Kerajaan VUDO untuk mengambil alih Bumi. Dengan mendapatkan Power Stone Merah, Ray mendapat kekuatan untuk berubah wujud menjadi "Bima", sang Satria Garuda. Randy Iskandar dan adiknya, Rena yang adalah keluarga angkat Ray pun ikut terseret dalam setiap aksi Bima melawan kegiatan jahat Rasputin dan Kerajaan VUDO
      Saya Rasa, BIMA Satria Garuda ini dapat menjawab kegusaran saya diawal, bahwa anak - anak Indonesia sekarang sudah seharusnya memiliki figur pahlawan lokal. Bima tidak hanya mengajarkan tentang perdamaian dan kebajikan, namun juga hal kecil seperti jangan menonton TV terlalu dekat dan sebagainya. Bima juga menjadi semakin mudah mudah dicerna karena tampilannya yang terasa "Dekat" karena Indonesia banget, tentu saja karena shooting serial ini dilakukan di Kota Jakarta. Dan saya berharap kedepannya akan semakin banyak figur - figur pahlawan Indonesia yang dikemas secara menarik seperti BIMA Satria Garuda ini.

Matur Nuwun Sanget buat MNC Group..

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bima_Satria_Garuda