Rabu, 06 Agustus 2014

Memandang Permasalahan Seperti Helikopter

     Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk jalan - jalan bareng keluarga ke Pulau Batam, dari sini cuma butuh waktu 40 menit saja untuk menyebrang ke Singapura. Kami main di Singapura selama 2 hari dan disana ditemani Pak Muhammad dalam berkeliling mengitari Singapura. Pak Muhammad ini seorang jomblo berusia 40 tahun keturunan Malaysia berkewarganegaraan Singapura, dan dari dialah saya tau kalau jomblo dibully juga disana, ternyata nggak cuma di Indonesia ya jomblo di-bully, di negara lain jomblo juga di-bully habis - habisan, haha.
    Di sebuah perjalanan, pak Ahmad menunjukkan sebuah jalur bawah tanah yang ternyata tanah bangunannya berasal dari Indonesia, seseorang dari rombongan nyeletuk "Wah bagus - bagus tanahnya ngambil dari kita ya", ternyata Pak Ahmad dengar dan membalas "Wah kita beli ini, kalian kan jual". Adegan salah-salahan ini berlanjut sampai beberapa saat tapi nggak sampai menimbulkan baku hantam, yakali.
     Pelajarannya apa? Kadang kita sering men-judge sesuatu adalah salah tanpa melihat dari sudut pandang yang lainnya, contoh lainnya ya para pendukung capres kemarin, mereka seakan termakan cinta buta dan nggak mau melihat sudut pandang yang lain.
    Helicopter View merupakan salah satu pola pikir yang diajarkan dari keilmuan Industri dimana kita dilarang untuk mengambil keputusan terlalu cepat tanpa melihat masalah secara general. Mendetail itu perlu, tapi jangan mendetail disatu sisi saja, ada baiknya kita melihat secara detail dari kedua sisi secara bersamaan. Hal ini penting, karena kita selalu mencari jalan tengah yang terbaik toh?
     Semua orang selalu berusaha melakukan yang terbaik menurut mereka dan untuk mereka, ketika dua kepentingan bertemu mungkin saja hasilnya adalah dua sisi mata koin yang berbeda, tapi intinya tetap yang pertama, keduanya baik, tergantung darimana kita melihatnya dan ada baiknya tidak terlalu menjelekkan sisi yang lainnya karena itu jelek bagi kita tapi baik untuk orang lain mungkin.

(Foto Bareng Pak Ahmad di MRT)

Timnas U-19 Garuda Jaya : Sebuah Tim Nasional ataukah Klub Super?

     Sebuah fenomena baik muncul membumbungkan asa pecinta sepak bola tanah air, Timnas U-19 besutan Indra Sjafri menampilkan permainan apik dan menarik hingga mampu mengalahkan tim sekaliber Korea Selatan. Sehebat apakah anak - anak muda ini?

      (Tim Nasional U-19 Garuda Jaya)

     Sang pelatih Indra Sjafri sejatinya sudah mengumpulkan pemain pemain terbaik  bangsa ini sejak mereka masih berusia 15 tahun. Pak Indra sendiri melakukan pencarian langsung ke daerah - daerah terpencil di pelosok Indonesia untuk menemukan bibit-bibit pesepak bola terbaik di negeri ini. Beliau bahkan rela mengunjungi Muara Teweh di Kalimantan hingga Alor di NTT guna mencari pemain yang dia rasa bahkan scout PSSI pun enggan mendatangi daerahnya. 

(Menemukan Sandi Gunawan di Aceh)

    Pembinaan yang dilakukan Pak Indra sedari dini ini memang merupakan komitmen beliau yang sangat peduli dengan pembinaan pemain usia dini. Alhasil pemain hasil pencariannya ini kini berkembang menjadi sebuah tim super dengan gaya main menyerupai tiki-taka dengan kaptennya Evan Dimas. Mereka beberapa kali sudah menunjukkan kepiawaian mereka dengan menjuarai turnamen HKFA di Hongkong dan berhasil lolos keputaran final Piala Asia U-19 dengan mengalahkan tim kuat Korea Selatan 3-2 dipertandingan terakhir. Tim ini pun turut menjuarai Piala AFF U-19 pada tahun 2013 lalu.Luar Biasa!

(Timnas U-19 Juara Turnamen HKFA di Hongkong)

     Antusiasme masyarakat meninggi, publik berharap banyak kepada 23 anak muda ini namun benarkah mereka ini adalah Tim Nasional?
     Mengapa saya bertanya demikian? Saya bukan bermaksud menjelek - jelekkan tim super buatan Pak Indra ini, namun saya hanya ingin menyoroti pembinaan pemain usia dini yang dilakukan oleh PSSI selama ini saja.
     Di Jepang dan Amerika Serikat, pengembangan pemain dilakukan dari usia dini melalui dua jalur. Ada yang melalui pembinaan klub adapula yang melalui kompetisi pelajar. Shunsuke Nakamura yang mantan pemain Celtic Skotlandia merupakan salah satu hasil pembinaan dari jenjang kompetisi sekolah. PSSI-nya Jepang bahkan nggak main - main dalam membuat target. Ketika mereka menargetkan untuk lolos Piala Dunia di tahun 2002 saja mereka sudah melakukan persiapan sejak tahun 1994, hal pertama yang mereka buat adalah pembangunan infrastruktur seperti lapangan dan menyekolahkan pelatih keluar Jepang. Hasilnya kini Jepang menjadi salah satu kekuatan Asia bahkan pemain - pemainnya malang melintang bermain di Eropa.
(Shinji Kagawa, Pemain asal Jepang yang merumput di Dortmund dan Manchester United)

     Dana yang mereka keluarkan hanya untuk modal awal pengembangan usia dini ini saja mencapai 200 juta dolar US, bandingkan dengan dana pembinaan Timnas U-19 yang "hanya" senilai 2 Milliar rupiah saja. Bukan sesuatu yang instan tentunya.
     Lalu coba kita tengok, para pemain U-19 ini sudah bersama - sama selama hampir 4 tahun dan saat ini sedang berlatih bersama, berbeda dengan pemain Timnas U-19 Jepang yang mungkin saja saat ini sedang berlatih dengan klubnya masing - masing dan baru dikumpulkan ketika ada Laga Internasional saja. Jadi Timnas kita ini Tim Nasional yang orangnya berasal dari berbagai Klub atau malah sebuah klub super yang dimajukan sebagai tim nasional? 
     Sekali lagi bukan maksud saya untuk menyalahkan Timnas. Hanya saja ada baiknya, PSSI mulai melakukan perbaikan infrastruktur dan program pembinaan usia dini mulai saat ini. Agar nantinya bisa muncul Pak Indra yang baru sehingga memunculkan fondasi Timnas yang semakin kuat, tidak hanya sebuah klub super dengan roster sebanyak 23 orang pemain saja.

Rabu, 23 Juli 2014

Are You Ready Fans?

Are You Ready United Fans?
Be Brave, New Season Has Come!

Masuk Website Resmi ITB

     Malam ini saya sedang iseng - iseng nyari informasi lomba untuk semester depan mana tau ada kompetisi bisnis yang menarik dan worthed buat diikutin, eh waktu lagi search google nggak sengaja kebuka yang ini :

      Hihihi, Baru tau euy ternyata hasil lomba yang di UI dulu masuk ke web resminya ITB, iya www.itb.ac.id itu. eh pas dilihat yang nulis ternyata si Ninik juga yang satu jurusan sama kami, haha, beruntung banget punya temen pers sekaliber Ninik.
    Setelah baca berita tentang diri sendiri ini, Harapannya sih semoga di kompetisi NBCC UNPAD yang rencananya bakal kami ikuti lagi tuhan ngasih hasil yang baik, kan lumayan bisa ngeceng di kampus adek sendiri, hehe.

Selasa, 22 Juli 2014

Au Revoir Patrice


     “After a great deal of thought I have decided the time is right for me to leave Manchester United. It is the biggest decision of my career as this club is, and will always remain, in my heart.
     "Joining and playing for Manchester United has been a privilege, a dream come true and my time here has been so memorable. Through the good times and the bad times we have all stuck together and remained loyal. I have always said you don’t just join Manchester United, you join the family and long may that tradition continue.
     "This club is steeped in history and I feel privileged to have become a part of that. Over the past nine years I have met and worked with some incredible people, many of whom will remain friends for life. I would like to thank everyone at the club - teammates, coaches and in particular all the staff who made every single day in Carrington or at Old Trafford a special day.
     "An immense thank you to Sir Alex Ferguson for making it all possible, for giving me the privilege to be a captain, to be inspired by the legend of Manchester United and to understand that nobody is bigger than the club.
     "My biggest thanks go to the fans. We have had some fantastic times together, we lifted all of those trophies together and that night in Moscow will live with us all forever. Every single time I stepped out in that shirt I knew I was playing for the badge and for a very special club.
     "My passion for this club will live on and I know you guys will go on to enjoy more success in the coming seasons."
Patrice Evra's Open Letter for United Fans

     Akhirnya jadi kenyataan, setelah memberikan 9 tahun masa baktinya di Teater Mimpi, bek kiri andalan United selama bertahun - tahun ini mengucap salam perpisahannya pagi ini. Dengan nilai transfer sebesar 2.5 juta Euro Evra resmi ditransfer menuju raksasa Italia, Juventus.


     Bek kiri asal Prancis ini pertama kali didatangkan United pada jeda transfer Januari musim 2006/2007 dari AS Monaco bersamaan dengan Nemanja Vidic dari Spartak Moscow. Bek kiri yang lahir di Dakkar Senegal ini memperkuat United sebanyak 377 kali dan mencetak 10 buah gol selama karir gemilangnya di Old Trafford. Evra menjadi pilihan utama Fergie dan dipercaya sebagai wakil kapten dibeberapa pertandingan ketika Vidic tidak dapat tampil.
(Selebrasi Provokatif setelah Perseteruan dengan Suarez)
  Salah satu momen paling krusial dalam karirnya bersama United adalah ketika dirinya mendapatkan perlakuan rasis dari pemain Liverpool, Luis Suarez. Akibatnya Suarez dilarang ikut bertanding dalam beberapa pertandingan oleh FA.  


(Evra ketika mengangkat piala Champions di Moscow)
Premier League x5
Champions League x1
League Cups x3
Community Shield x5
Club World Cup x1
(377 appearances, 10 goals)

     Catatan diatas adalah berbagai trofi yang telah dimenangkan oleh Patrice selama membela setan merah. Evra ikut serta mengantarkan United menjadi yang terbaik di Eropa dan Dunia pada masanya. Kepergiannya sebenarnya telah diantisipasi United dengan mendatangkan Luke Shaw yang juga merupakan pembelian bek termahal keempat di dunia.



    










     Terakhir, silih berganti mantan rekan setimya seperti De Gea dan Mata memberikan rasa terima kasih mereka dan ucapan dukungan untuk kepergian bek kiri tangguh asal Prancis ini, semoga ditempat barunya nanti Evra mampu memberikan yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik pula. Au revoir Patrice!!

      
Read more: http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2700225/Patrice-Evra-hails-Sir-Alex-Ferguson-joining-Juventus-Manchester-United.html#ixzz38B3Jtwbz
Follow us: @MailOnline on Twitter | DailyMail on Facebook

Senin, 21 Juli 2014

Yang Paling Penting : Jujur



“Sing paling penting iku jujur, mesti disenengi wong akeh.ne’ wis dipercoyo orang idup mesti bahagia. Ojo lali nolong sesama, kon irup ndak sendirian suatu saat yo butuh wong liane.”

     Setiap tahunnya di hari raya idul fitri kami sekeluarga selalu pulang kampung ke Kota Kediri. Setiap tahun pula nenek dari ayah yang hidup sendiri ini terlihat semakin lemah. Libur tahun ini bahkan nenek sudah nggak bisa bangun lagi dari tempat tidurnya. Nenek yang mengalami pengapuran tulang sudah tidak mampu lagi duduk padahal beberapa bulan yang lalu ketika saya diopname karena radang usus beliau bersikeras untuk terbang ke Bandung guna menjenguk cucu kesayangannya ini, namun Kelud melarang nenek untuk pergi waktu itu.
     Saya cucu kesayangan nenek memang, saya sering banget diberi wejangan kalo lagi pulang kesini.     Beberapa pesannya yang masih saya ingat diantaranya “Kalau anak laki, kuliahnya di ITB, Menteri – menteri itu sekolahya di sini, yo kamu tak doain supaya jadi menteri juga nanti” Ini pesan waktu saya kelas tiga dan bingung mau masuk mana, sejak ini saya mantap memilih ITB dan Alhamdulillah disini saya sekarang. Pernah juga nenek bilang “jangan pacaran dulu sampai lulus kuliahnya nanti, fokus dulu, kalau udah jadi orang dan bisa bertanggung jawab baru kalian cari” beliau bilang gini waktu lebaran tahun 2011, waktu itu cucunya (ada 6 yang disana waktu itu) pada sibuk mainan hape, nenek terus nanya satu – satu siapa yang udah punya pacar? Kebetulan saya dan saudara saya yang lagi kuliah di Malang aja yang belum punya waktu itu. Alhamdulillah juga saya masih nurutin pesan yang ini.
     Dan lebaran kali ini nenek semakin terlihat lemah, bahkan udah nggak bisa turun dari kasurnya lagi. Disetiap sholat iedul Fitri selalu terselip doa supaya saya bisa ketemu lagi liburan selanjutnya. Amin. Dan sepenggal kalimat diatas itu adalah salah satu pesan nenek tahun ini yang disampaikan dengan tubuh lemas sembari berbaring dikasurnya.
     Semoga advice ini bukanlah advice terakhir nenek, amiin...

Jumat, 18 Juli 2014

Louis Van Gaal is a Genius Old Geezer

     Musim 2014/2015 akan segera bergulir, Manchester United resmi menunjuk Louis Van Gaal sebagai manajer menggantikan David Moyes. Sosok manajer ini bukanlah nama asing lagi, dia pernah melatih tim - tim besar sekaliber Ajax, Barcelona, dan Munchen. Terakhir pria Belanda ini membesut tim nasional negaranya dan mempersembahkan juara ketiga.


      Tidak hanya melatih para pemainnya saja, Pelatih gaek ini pulalah yang memberikan pengalaman melatih kepada Guardiola dan Mourinho yang kini diyakini sebagai pelatih - pelatih terbaik eropa. Pengalaman ini mereka dapatkan ketika sama - sama menukangi Barcelona pada masa itu.
     Sekarang, kenapa sih harus Van Gaal? Sehebat apasih dia?

     Kalau harus dijawab pakai trofi, AZ dan Ajax pernah ia bawa meraih trofi Eredivisie, 2 gelar La Liga untuk Barcelona, dan masing - masing satu gelar Liga dan Piala Jerman untuk Bayern. Tambahan lainnya pelatih ini juga telah memenangi 2 gelar Liga Champions bersama Ajax serta Bayern dan meraih 1 piala UEFA dengan Barcelona.


     Dan yang terbaru bersama timnas Belanda di World Cup 2014, pelatih bertangan dingin ini melakukan beberapa siasat cerdik untuk terus melaju sampai babak semifinal, diantaranya :

1. Memphis Depay (Vs Australia)

 
     Keberhasilan pergantian pemain Van Gaal terjadi pada laga kedua Grup B melawan Australia. Belanda kesulitan dan tertahan imbang 2-2. Depay masuk menggantikan Bruno Martins Indi yang cedera di akhir babak pertama. Dan pada menit ke-68, tendangan jarak jauh pemain PSV Eindhoven ini sukses membobol gawang Australia dan jadi pahlawan kemenangan Belanda.

      Bukan hanya sampai di situ. Depay kembali menjadi "kartu as" Van Gaal di laga kontra Chile. Masuk menggantikan Jeremain Lens, pemain 20 tahun itu mencetak gol kedua Belanda pada menit-menit akhir dan menang 2-0.


2. Leroy Fer (Vs Chile)



     Pada laga kontra Chile, Belanda juga harus berterima kasih kepada pemain cadangan lainnya. Leroy Fer dimasukkan untuk menggantikan Wesley Sneijder di menit 75.

      Hanya butuh waktu dua menit bagi Fer untuk memecah kebuntuan Die Oranje. Pemain pengganti itu dengan sempurna menanduk bola ke gawang Claudio Bravo. Belanda unggul 1-0, sebelum digandakan pada akhir laga.


3. Klaas-Jan Huntelaar (Vs Meksiko)












     Laga 16 besar melawan Meksiko juga menjadi salah satu aksi Van Gaal menunjukkan kebolehannya. Huntelaar masuk menggantikan Robin van Persie yang tampil buruk di menit ke-76.

      Keputusan memasukkan Huntelaar sangat tepat. Belanda dapat penalti pada akhir-akhir laga. Meski dalam tekanan besar, penyerang Schalke itu menjalani tugasnya dengan baik. Belanda akhirnya menang 2-1 dan lolos ke perempat final. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mengistimewakan satu orang pun dalam timnya, bahkan Van Persie yang merupakan kapten tim ia ganti ketika berada dibawah form dan keputusan ini bisa diterima sang kapten yang menunjukkan wibawa Van Gaal dimata pemain senior pun diakui, hal yang tidak didapatkan Moyes selama satu musim di United.


4. Tim Krul (Vs Kosta Rika)











     Terakhir adalah pergantian kiper yang dilakukan Van Gaal jelang adu penalti kontra Kosta Rika di babak perempat final. Saat skor masih sama kuat 0-0, Krul tiba-tiba dimasukkan tepat jelang babak tambahan usai.

      Jasper Cillessen pun akhirnya duduk di bangku cadangan untuk pertama kalinya meski terlihat ngambek. Ternyata, keputusan Van Gaal sangat tepat. Krul menepis dua tendangan eksekusi pemain Kosta Rika sekaligus memberikan tiket lolos bagi Belanda.


     Kini, ditemani legenda hidup United, Ryan Giggs, pelatih ini siap membawa Manchester Merah kembali ke jalur juara seperti musim - musim sebelumnya dengan ide - idenya. Kita tunggu taktik apa sajakah yang akan digunakan pelatih sarat pengalaman ini untuk United. Semoga Van Gaal mampu menjawab ekspektasi tinggi kami para pendukung setia setan merah!!